The Bronx… Mr. Wandi

22 01 2009

Pada hari minggu tgl 18 Januari 2009 kami berdua jalan2 kerumah salah satu personil Papamota yaitu Bp. Wandi.

Rumah Bp. wandi ini didaerah Purwodadi Pasuruan di pinggir jalan raya Purwodadi – Malang, kl dari Lawang (Malang) sekitar 3 Km arah Purwosari, sebelah timur jalan.

Pas ketemu P. Wandi langsung disapa dg ramah.. dg ciri kasnya yg banyol.. pokoknya kl ngobrol dg beliau gak akan ada habisnya.. mulai dari Mobil, sepeda motor.. sampai hal hal yg berbau mistik hehehe.


Tampak bp. wandi, yan’s dan sujen (di dinding naik suzuki bandit)

Beliau ini kalau di lingkungan papamota termasuk lama jg dan katanya banyak yg julukin dg The BRONX (kaya film2 the bronx saja) cos sepeda motornya kl gak ngebrong (suara yg menghentak2) beliau gak akan puas,  makanya beliau dapat julukan seperti itu.

Hari hari beliau sekarang ini ngurusi bengkel modif dengan peralatan yg sederhana.. tapi gak mau kalah dg kalangan muda (salut dech) yang penting jiwanya masih muda juga hahahaha dan hanya ditemani sang istri.. cos anak2nya sudah muar semua hehhee kaya burung saja.. bahkan muar nya ada yg keluar negeri.

Kesukaan beliau ya kadang berburu, mancing dan merawat si Elang Putih seperti yang ada di background dinding. oh iya dinding itu jg ada background suzuki bandit (posisi skrg ada dihalaman rumah beliau) tapi masih dalam tahap penyempurnaan.. ya kl udah jalan nanti akan kami tampilin lagi disini hehehehe…

setelah cukup panjang lebar gak terasa udah 2 jam kami ngobrol dg beliau, akhirnya kami undur diri.

Bravo Mr. Bronx..

Advertisements




Papamota di Jawapos just copas

21 01 2009

DICOPY PASTE Dari JAWAPOS Radar Kediri
[ Senin, 15 Desember 2008 ]
MACI, Komunitas Motor Antik di Kediri
Awalnya Dianggap Orang yang Kurang Kerjaan

Komunitas ini awalnya hanya beranggotakan segelintir orang saja. Itupun awalnya adalah para ‘blantik’ (pedagang) motor. Kini, anggotanya terus berkembang. Bagi komunitas ini, mengendarai motor yang harganya sama seperti harga mobil adalah kepuasan tersendiri.

HERI MUDA SETIAWAN, Kediri

—————————————————————

Soal komunitas penyuka otomotif, di Kediri tumbuh bak jamur di musim hujan. Jumlahnya tak terhitung. Tiap Sabtu malam, eksistensi komunitas-komunitas otomotif tersebut akan muncul. Mereka berjajar di base camp masing-masing.

Dari sekian komunitas motor tersebut, ada satu yang sering jadi perhatian. Komunitas itu bernama MACI. Yang merupakan kependekan dari Motor Antik Club Indonesia.

Sesuai namanya, komunitas ini adalah kumpulan dari penyuka motor antik alias kuno. Komunitas ini merupakah salah satu dari klub-klub yang usianya tua di Kota Tahu ini. “Kami sudah ada sejak era 80-an,” sebut Enggar, seorang anggota MACI.

Enggar tidak tahu tanggal dan tahun berapa tepatnya kelompok ini dibentuk. Hanya, MACI sebenarnya merupakan reinkarnasi dari Papamota. Papamota memiliki kepanjangan Paguyuban Penggemar Motor Tua.

Awal berdirinya Papamota, anggotanya hanya sepuluh orang. “Itupun boleh dibilang blantik-blantik (pedagang) motor,” ujar Enggar yang juga Ketua MACI Kediri ini.

Singkat cerita, di era 90-an, para pecinta motor antik itu dikumpulkan di Semarang oleh salah satu petinggi TNI. Mereka kemudian mendirikan wadah bagi pecinta motor antik. Sejak saat itu kelompok ini disebut MACI.

Di Kediri, komunitas ini terus berkembang. Ketika banyak komunitas lain yang terpecah karena perselisihan, MACI justru semakin solid. “Anggotanya itu tidak pernah berkurang malah tambah,” terang Enggar, yang menghitung anggotanya saat ini sebanyak 60-an orang.

Enggar sendiri masuk komunitas tersebut pada 1994. Ketertarikan Enggar dipicu kesukaannya pada motor kuno tersebut sejak kecil. Menurutnya, model motor yang asal-usulnya dari Negeri Ratu Elizabeth tersebut sangat menarik.

Enggar kecil pun punya angan-angan. Kelak jika dia besar ingin memiliki satu dari sekian banyak model motor antik. Sedikit, demi sedikit dia mengumpulkan rupiah agar bisa membeli motor yang diinginkannya. Motor antik yang pertama kali dia miliki bermerek BSA (Birmingham Small Arm).

Punya satu motor antik belum membuatnya puas. Di sela-sela kesibukannya menjadi Kepala Puskesmas Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, dia terus berburu motor antik. Hingga akhirnya mendapatkan merek Triumph yang diimpikan sejak muda.

Kegemarannya akan motor antik tersebut juga sempat membuat istrinya kepincut. Istri Enggar yang awalnya kurang suka pun kini mulai ikut-ikutan. “Sekarang istri saya itu malah suka tanya kapan touring lagi,” cerita Enggar.

Mereka yang tua pun juga tak ketinggalan. Salah satunya adalah Ashar, yang tinggal di Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Meski usianya sudah 67 tahun, pria yang punya 5 koleksi motor antik itu tak mau kalah dengan yang muda-muda. Tiap kali ada touring, Ashar tak mau ketinggalan. “Bisa hilangi stress,” ungkapnya.

Saking demennya dengan motor antik, Ashar pun terkadang rela duduk berjam-jam hanya karena memelototi motor antik koleksinya.

Maci tak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua saja. Mereka yang muda pun juga tak canggung bergabung. Seperti Anjik, pemuda asal Katang, Gampengrejo itu. Umumnya anak-anak muda yang lebih suka punya tunggangan mobil mewah, Anjik justru tampil beda. Baginya berkendara di atas mobil merupakan hal yang lumrah.

Awalnya dia pun sempat mendapat tentangan dari orang tuanya saat akan membeli motor antik. “Dipikir saya ini kurang kerjaan,” terangnya sambari tertawa.Namun dia pun bisa meyakinkan kedua orang tuanya. Memiliki motor antik tidak akan pernah merugi. Lantaran dari tahun ke tahun motor-motor antik harganya terus naik mengikuti kurs dolar.

Dengan motor antik tersebut, Anjik pun akhirnya bisa mengetahui Indonesia dan berbagai provinsi. Tentu hal itu didapatnya ketika mengikuti berbagai tour yang diadakan kelompoknya.

Anjik mengakui menunggangi motor tua bisa memberikan kepuasan tersendiri. Meski terkadang untuk menyalakannya harus mengeluarkan tenaga yang tidak kecil. “Kepuasannya itu lain dari pada yang lain,” ungkapnya.

Bahkan dengan memiliki motor antik dia menjadi mandiri. Setiap pemilik motor antik dituntut bisa mengenal karakter motor sendiri.

Ada satu kendala yang diakui hampir semua para pecinta motor antik tersebut. Yakni masalah surat kendaraan. Diakui, ada sebagian motor antik yang tidak jelas surat-suratnya. Itupun juga dikarenakan motor tersebut dulunya tidak banyak yang melirik. Bahkan, pemiliknya pun menempatkannya bercampur dengan barang rongsokan. Terlebih ada kabar saat itu mereka yang memiliki motor antik akan ditangkap, “Katanya itu motor para eks…,” jelasnya.

Mereka pun berharap instasi terkait bisa diajak duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut. dengan harapan para pemilik motor antik tidak lagi was-was setiap berkendara di jalan. “Kalaupun harus bayar, kami pun siap,” ujarnya. (fud)

link : http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=49402





Zundapnya O2K

15 01 2009

Lha ini zundap nya Ook, gak tau knp gak mau di foto anaknya… mungkin lagi gak enak badan… btw itu  yang mahal Tas kulitnya ato sepeda motornya ya??? ckekekkek… ayo Ok buat touring2 ntar kl ngadat tinggal dinaikkan pick up hehehhe.. dah bravo aja.. yang penting semangatnya fren hehehehe





DKW ne Yan’s

14 01 2009

SALAM BIKERS

Dimulai dari mana dulu ne critanya… maklum baru bisa nulis2 di blog.. (asli blog aja ayas kadit itreng / gaptek orang bilang) hehehehehe…


Ini tampilan saya kalau lagi action in DKW RT250H (244cc) keren gak? (gak tuh), kalau ngomong2 about DKW ini teringat cerita pas mau mendapatkan DKW ini..tratatata… listen…

Critanya pas mau cari dolomite untuk pertanian waktu itu nyarinya dg “Mr. Sujen”.. di Daerah Batu (Malang biarpun skrg bukan malang lagi tapi masih jiwa malang kan?? halah)..
Setelah dapat dolomite (50 kg).. kami pulang… pas jalan turun daerah karangploso, kami disalip sama motor tua ditumpangi kakek nenek..(keliatannya keren sekali)… lha dari kejadian tsb kurang lebih hampir 7-9 bulan (agak2 lupa ne).. Saya pribadi (tdk dgn Sujen, cos mau bikin kejutan) mencari2 siapa pemilik Motor Tua tersebut… Dengan tenaga yg menggebu2 serta uang cupet hahaha… akhirnya ketemu juga dg Kakek tsb… Namanya Bp. Mukayan.. eh iya kenapa saya bilang kakek cos udah umur 27 eh 72 tahun…

Lha dari pembicaraan yg gak ada ujung pangkalnya itu saya sebenarnya konsen hanya pada DKW yg diparkir halaman Bp. Kayan.. akhirnya setelah nego beberapa kali (eh hari).. DKW tsb skrg nangkring di tempatku… Sudah sampai disini dulu… gak betah ngetiknya hahahaha maklum blogger pemula.. oh iya ntar saya lanjut mengenai Siapa itu Bp Kayan dan sepak terjangnya di dunia Montor lawas (antik)…

dan satu lagi kemungkinan saya hanya membahas hal-hal yang berbau kecintaan pada Sepeda Montor Lawas saja… sudah barang tentu akan mengabaikan bisnis tentang Montor Lawas tsb khususnya dalam blog2 yg akan saya tulis.. (kecuali diluar blog ya hahahaha).. karena kalau sudah berbicara masalah bisnis akan menjadikan persaudaran para pecinta motor lawas renggang dan kaku bila ada selisih paham…. OK .. sudah capek neeee..

SALAM BIKERS and PEACE

NOTE : DKW SOLD Mei 2009 dibawah ke Bali





sejarah sepeda motor

5 01 2009

montor jadulz

Sepeda motor memiliki sejarah yang panjang di negeri ini. Sepeda motor sudah hadir di negara ini sejak masih berada di bawah pendudukan Belanda dan masih bernama Hindia Timur, Oost Indie atau East India.

Data yang ada menyebutkan bahwa sepeda motor hadir di Indonesia sejak tahun 1893 atau 115 tahun yang lalu. Uniknya, walaupun pada saat itu negara ini masih berada di bawah pendudukan Belanda, orang pertama yang memiliki sepeda motor di negeri ini bukanlah orang Belanda, melainkan orang Inggris. Dan, orang itu bernama John C Potter, yang sehari-hari bekerja sebagai Masinis Pertama di pabrik gula Oemboel (baca Umbul) Probolinggo, Jawa Timur.

Dalam buku Krèta Sètan (de duivelswagen) dikisahkan bagaimana John C Potter memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman.
Sepeda motor itu tiba pada tahun 1893, satu tahun sebelum mobil pertama tiba di negara ini. Itu membuat John C Potter menjadi orang pertama di negeri ini yang menggunakan kendaraan bermotor.
Sepeda motor buatan Hildebrand und Wolfmüller itu belum menggunakan rantai, belum menggunakan persneling, belum menggunakan magnet, belum menggunakan aki (accu), belum menggunakan koil, dan belum menggunakan kabel-kabel listrik.
Sepeda motor itu menyandang mesin dua silinder horizontal yang menggunakan bahan bakar bensin atau nafta. Diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk menghidupkan dan mestabilkan mesinnya.

Pada tahun 1932, sepeda motor ini ditemukan dalam keadaan rusak di garasi di kediaman John C Potter. Sepeda motor itu teronggok selama 40 tahun di pojokan garasi dalam keadaan tidak terawat dan berkarat.
Atas bantuan montir-montir marinir di Surabaya, sepeda motor milik John C Potter itu direstorasi (diperbaiki seperti semula) dan disimpan di kantor redaksi mingguan De Motor. Kemudian sepeda motor antik itu diboyong ke museum lalu lintas di Surabaya, yang kini tidak diketahui lagi di mana lokasinya.

Seiring dengan pertambahan jumlah mobil, jumlah sepeda motor pun terus bertambah. Lahirlah klub-klub touring sepeda motor, yang anggotanya adalah pengusaha perkebunan dan petinggi pabrik gula. Berbagai merek sepeda motor dijual di negeri ini, mulai dari Reading Standard, Excelsior, Harley Davidson, Indian, King Dick, Brough Superior, Henderson, sampai Norton. Merek-merek sepeda motor yang hadir di negeri ini dapat dilihat dari iklan-iklan sepeda motor yang dimuat di surat kabar pada kurun waktu dari tahun 1916 sampai 1926.

Lintas Jawa

Tidak mau kalah dengan pengendara mobil, pengendara sepeda motor pun berupaya membukukan rekor perjalanan lintas Jawa dari Batavia (Jakarta) sampai Soerabaja (Surabaya) yang berjarak sekitar 850 kilometer.

Kemudian, 16 Mei 1917, Frits Sl uijmers dan Wim Wygchel yang secara bergantian mengendarai sepeda motor Excelsior memperbaiki rekor yang dibukukan Gerrit de Raadt. Mereka mencatat waktu 20 jam dan 24 menit, dengan kecepatan rata-rata 42 kilometer per jam.

Rekor itu tidak bertahan lama. Sembilan hari sesudahnya, 24 Mei 1917, Goddy Younge dengan sepeda motor Harley Davidson membukukan rekor baru dengan catatan waktu 17 jam dan 37 menit, dengan kecepatan rata-rata 48 kilometer per jam.
Rekor itu sempat bertahan selama lima bulan sebelum dipecahkan oleh Barend ten Dam yang mengendarai sepeda motor Indian dalam waktu 15 jam dan 37 menit pada tanggal 18 September 1917, dengan kecepatan rata-rata 52 kilometer per jam.

Melihat rekornya dipecahkan oleh Barend ten Dam, enam hari sesudahnya, 24 September 1917, Goddy Younge yang berasal dari Semarang kembali mengukir rekor baru dengan catatan waktu 14 jam dan 11 menit, dan kecepatan sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya rata-rata 60 kilometer per jam.

Pada awal tahun 1960-an, mulai masuk pula skuter Vespa, yang disusul dengan skuter Lambretta pada akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, masuk pula sepeda motor asal Jepang, Suzuki, Honda, Yamaha, dan belakangan juga Kawasaki.
Seiring dengan perjalanan waktu, sepeda motor asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor di negeri ini. Urutan teratas ditempati oleh Honda, diikuti oleh Yamaha di tempat kedua dan Suzuki di tempat ketiga. (JL)

(Kompas, 16 Agustus 2008)