Papamota di Jawapos just copas

21 01 2009

DICOPY PASTE Dari JAWAPOS Radar Kediri
[ Senin, 15 Desember 2008 ]
MACI, Komunitas Motor Antik di Kediri
Awalnya Dianggap Orang yang Kurang Kerjaan

Komunitas ini awalnya hanya beranggotakan segelintir orang saja. Itupun awalnya adalah para ‘blantik’ (pedagang) motor. Kini, anggotanya terus berkembang. Bagi komunitas ini, mengendarai motor yang harganya sama seperti harga mobil adalah kepuasan tersendiri.

HERI MUDA SETIAWAN, Kediri

—————————————————————

Soal komunitas penyuka otomotif, di Kediri tumbuh bak jamur di musim hujan. Jumlahnya tak terhitung. Tiap Sabtu malam, eksistensi komunitas-komunitas otomotif tersebut akan muncul. Mereka berjajar di base camp masing-masing.

Dari sekian komunitas motor tersebut, ada satu yang sering jadi perhatian. Komunitas itu bernama MACI. Yang merupakan kependekan dari Motor Antik Club Indonesia.

Sesuai namanya, komunitas ini adalah kumpulan dari penyuka motor antik alias kuno. Komunitas ini merupakah salah satu dari klub-klub yang usianya tua di Kota Tahu ini. “Kami sudah ada sejak era 80-an,” sebut Enggar, seorang anggota MACI.

Enggar tidak tahu tanggal dan tahun berapa tepatnya kelompok ini dibentuk. Hanya, MACI sebenarnya merupakan reinkarnasi dari Papamota. Papamota memiliki kepanjangan Paguyuban Penggemar Motor Tua.

Awal berdirinya Papamota, anggotanya hanya sepuluh orang. “Itupun boleh dibilang blantik-blantik (pedagang) motor,” ujar Enggar yang juga Ketua MACI Kediri ini.

Singkat cerita, di era 90-an, para pecinta motor antik itu dikumpulkan di Semarang oleh salah satu petinggi TNI. Mereka kemudian mendirikan wadah bagi pecinta motor antik. Sejak saat itu kelompok ini disebut MACI.

Di Kediri, komunitas ini terus berkembang. Ketika banyak komunitas lain yang terpecah karena perselisihan, MACI justru semakin solid. “Anggotanya itu tidak pernah berkurang malah tambah,” terang Enggar, yang menghitung anggotanya saat ini sebanyak 60-an orang.

Enggar sendiri masuk komunitas tersebut pada 1994. Ketertarikan Enggar dipicu kesukaannya pada motor kuno tersebut sejak kecil. Menurutnya, model motor yang asal-usulnya dari Negeri Ratu Elizabeth tersebut sangat menarik.

Enggar kecil pun punya angan-angan. Kelak jika dia besar ingin memiliki satu dari sekian banyak model motor antik. Sedikit, demi sedikit dia mengumpulkan rupiah agar bisa membeli motor yang diinginkannya. Motor antik yang pertama kali dia miliki bermerek BSA (Birmingham Small Arm).

Punya satu motor antik belum membuatnya puas. Di sela-sela kesibukannya menjadi Kepala Puskesmas Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, dia terus berburu motor antik. Hingga akhirnya mendapatkan merek Triumph yang diimpikan sejak muda.

Kegemarannya akan motor antik tersebut juga sempat membuat istrinya kepincut. Istri Enggar yang awalnya kurang suka pun kini mulai ikut-ikutan. “Sekarang istri saya itu malah suka tanya kapan touring lagi,” cerita Enggar.

Mereka yang tua pun juga tak ketinggalan. Salah satunya adalah Ashar, yang tinggal di Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Meski usianya sudah 67 tahun, pria yang punya 5 koleksi motor antik itu tak mau kalah dengan yang muda-muda. Tiap kali ada touring, Ashar tak mau ketinggalan. “Bisa hilangi stress,” ungkapnya.

Saking demennya dengan motor antik, Ashar pun terkadang rela duduk berjam-jam hanya karena memelototi motor antik koleksinya.

Maci tak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua saja. Mereka yang muda pun juga tak canggung bergabung. Seperti Anjik, pemuda asal Katang, Gampengrejo itu. Umumnya anak-anak muda yang lebih suka punya tunggangan mobil mewah, Anjik justru tampil beda. Baginya berkendara di atas mobil merupakan hal yang lumrah.

Awalnya dia pun sempat mendapat tentangan dari orang tuanya saat akan membeli motor antik. “Dipikir saya ini kurang kerjaan,” terangnya sambari tertawa.Namun dia pun bisa meyakinkan kedua orang tuanya. Memiliki motor antik tidak akan pernah merugi. Lantaran dari tahun ke tahun motor-motor antik harganya terus naik mengikuti kurs dolar.

Dengan motor antik tersebut, Anjik pun akhirnya bisa mengetahui Indonesia dan berbagai provinsi. Tentu hal itu didapatnya ketika mengikuti berbagai tour yang diadakan kelompoknya.

Anjik mengakui menunggangi motor tua bisa memberikan kepuasan tersendiri. Meski terkadang untuk menyalakannya harus mengeluarkan tenaga yang tidak kecil. “Kepuasannya itu lain dari pada yang lain,” ungkapnya.

Bahkan dengan memiliki motor antik dia menjadi mandiri. Setiap pemilik motor antik dituntut bisa mengenal karakter motor sendiri.

Ada satu kendala yang diakui hampir semua para pecinta motor antik tersebut. Yakni masalah surat kendaraan. Diakui, ada sebagian motor antik yang tidak jelas surat-suratnya. Itupun juga dikarenakan motor tersebut dulunya tidak banyak yang melirik. Bahkan, pemiliknya pun menempatkannya bercampur dengan barang rongsokan. Terlebih ada kabar saat itu mereka yang memiliki motor antik akan ditangkap, “Katanya itu motor para eks…,” jelasnya.

Mereka pun berharap instasi terkait bisa diajak duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut. dengan harapan para pemilik motor antik tidak lagi was-was setiap berkendara di jalan. “Kalaupun harus bayar, kami pun siap,” ujarnya. (fud)

link : http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=49402

Advertisements

Actions

Information

2 responses

15 10 2009
bombie hart

Bener memang, rela berkorban dengan ditilang oleh petugas ( karena kedapatan surat2 motunya gak lengkap), asal bisa “nunggangi motor klangenan”.

Bukan penggemar motu gak mau ngurus, tapi sebaliknya. Kebanyakan pada sadar diri, dan pengin melengkapi tunggangannya dengan surat resmi, meski MUUAHAALLL sekalipun. Ini juga wujud kesetiaannya pada negara untuk menjaga warisan, melestarikan monumen dengan membayar pajak. ( wah sok nasionalis ya ).

Pokoknya maju terus KPMAT&K, jangan relakan motor tua dan antik – mu dibawa lari ke negeri orang.

Salam – bombie hart.

25 11 2009
Happy ajs

Salam satu jiwa, biker berdarah oli Red Eyes Malank loyalitas tanpa batas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: