Mukayan in Jawapos

14 05 2011

Radar Malang

[ Senin, 12 Januari 2009 ]
Melihat Kegiatan Perkumpulan Motor Antik di Malang

Istri Ngidam Keliling Kota dengan Matchless 1956

Melengkapi sepeda motor dengan onderdil aslinya membutuhkan waktu dan dana tidak sedikit. Namun, kegiatan itu yang menjadi kenikmatan komunitas MACI (Motor Antik Club Indonesia) Malang. Saling bertukar informasi sampai browsing via internet merupakan salah satu topik pembicaraan saat para anggota berkumpul.

Happy D.Y

———————–

Deru sepeda motor memecah keheningan di sekitar perumahan Sulfat Indah II kemarin. Sayup-sayup, raungan bunyi dari knalpot itu makin mendekat hingga cukup memekikkan telingan. Suaranya khas, brum…brum…brum….

“Itu, teman-teman sudah datang,” ujar Wahjoedi, sebagai tuan rumah seraya berdiri menyambut kedatangan rekan-rekannya.

Sejurus kemudian, empat sepeda motor besar dengan pengendara berkostum hitam-hitam berhenti di halaman rumah Wahjoedi. Sebelum menghentikan sepeda motor, para pengendara ini unjuk kebolehan dengan berputar mengintari kawasan perumahan tersebut.

Urutan terdepan adalah Kayan H.D, yang belakangan diketahui mengendarai BSA (Birmingham Small Army) keluaran 1956. Dengan membonceng sang istri, Surtiningsih, 55, kepiawaian Kayan mengendarai sepeda motor tak kalah gayanya dengan anak muda.

Di belakangnya tampak Mumu, 25. Lajang yang buka usaha handphone ini ikut memperlihatkan sepeda motor kesayangannya, Norton tahun 1956. “Motor boleh tua, tapi pengendaranya tetap berjiwa muda,” celetuk Mumu begitu menyalami Radar yang sudah beberapa saat menunggu kedatangan mereka ini.

Selain itu ada Hamim yang membawa anak semata wayangnya, Haidar, bersama istrinya, Erika Puji Lestari, dengan sepeda motor Matchless keluaran 1956 serta Lukman dengan sepeda motor jenis BSA. Plat nomornya tertulis AE 6000 PW.

BSA, Norton, dan AJS (Adam Jhon Smith) yang dipunyai Wahjoedi merupakan jenis sepeda motor keluaran di bawah tahun 1960-an. Rata-rata memiliki CC 350, 500, dan 600. Sebagian besar merupakan keluaran Inggris. Di Malang ada ratusan orang yang memiliki sepeda motor tua ini.

Mereka inilah merupakan anggota MACI. MACI ini sendiri berdiri pada 1992. Biasanya mereka berkumpul satu bulan sekali dengan keliling kota dan bertukar informasi. Untuk komunitas di Indonesia sendiri, biasanya mereka bertemu saat jambore nasional yang digelar secara bergilir.

Pada 2004 lalu misalnya, anggota MACI berkumpul di Taman Budaya Jatim. “Yang hadir di sini sebagian saja. Karena memang hanya acara silaturahmi biasa. Jadi, siapa yang tidak ada acara, silakan datang,” ungkap Wahyoedi yang juga dosen FE UM ini.

Komunitas ini tetap menjaga keaslian onderdil sepeda motor. Onderdil yang terpasang diupayakan sesuai tahun keluaran dan harus asli. Sebut saja AJS kepunyaan Wahjoedi yang didapat 1999 lalu. Awal mulanya mendapatkan dalam keadaan tidak lengkap. Beberapa bagian onderdil terpasang bukan sesuai tahun keluarannya.

Pengakuan Wahyoedi, bernilai seni kalau sang pemilik berhasil mencari onderdil aslinya. Selain itu, mengembalikan aksesori aslinya merupakan kewajiban di tengah kecintaannya terhadap motor tua ini. “Lihat saja radiator ini. Dulunya radiator motor produk Jepang T-100. Tapi sekarang radiatornya asli. Saya dapat melalui browsing internet. Seingat saya harganya Rp 2,4 juta,” ujarnya. Bagian sock breaker juga demikian. Onderdil aslinya seharga Rp 1,5 juta diburu dari rekan-rekan sesama penggemar motor antik.

Istimewanya, motor-motor ini setelah dilengkapi onderdil aslinya akan bernilai jual tinggi. Harganya melambung tinggi dibandingkan saat mendapatkan dulu. Para pemilik motor antik ini sering mendapatkan penawaran dari penghobi lain dengan banderol tinggi. “Motor saya ini (BSA) pernah ditawar 45 juta. Tapi tidak saya berikan, karena tidak ada yang jual,” kata Kayan.

Dia menambahkan, koleksi motornya didapat dari pasar loakan sekitar 1980-an lalu dengan harga Rp 2,5 juta. Sudah puluhan juta dikeluarkan untuk perbaikan serta penambahan onderdil yang asli sesuai tahunnya.

Banyak pengalaman yang dijalani para penggemar motor ini. Dari berburu onderdil sampai mendapatkan jodoh. Pengalaman Hamim misalnya, bertemu Erika yang kini berstatus istriya dari MACI. Kebetulan Erika juga penggemar MACI yang didapat dari keluarganya.

“Hampir dipastikan saya selalu mendampingi suami saya kalau touring. Senang kalau naik motor antik ini. Nyaman, tidak seperti sepeda motor produk baru. Sulit diceritakan,” katanya lantas tertawa. Ketika hamil usia tiga bulan, Erika juga pernah ngidam dibonceng suaminya naik motor antik. Berbagai kota pernah disinggahi mendampingi suami. “Paling jauh touring ke Makassar beberapa waktu lalu,” ujar dia.

Hanya saja, di komunitas MACI ini sebagian besar motornya tidak dilengkapi surat-surat. “Komunitas kami sebenarnya ingin melengkapi surat-suratnya. Harapan kami pada pihak kepolisian mempermudah bagaimana bisa mendapatkan surat,” tambah Wahjoedi.

Imbas tak punya surat, keberanian menggendarai di jalan raya kalau sedang bersama-sama. Kalau sendiri-sendiri, terkadang khawatir karena tidak memiliki surat. “Untungnya motor antik ini tidak digunakan setiap hari. Hanya momen tertentu saja,” tandasnya Wahjoedi. (*)

url http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=57218

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: