“Semerbak Melati”

24 04 2013

Dengan tertati tati 600 langkah menuju masjid

Siang malam mengumandangkan adzan

Tiada kenal  lelah biarpun air dari langit mengguyur

Tetap semangat dengan jiwa prajurit biarpun usia diujung dunia

Berani karena benar, biarpun celaan kadang menerpa

Bersedekah beramal selalu mengisi hari2mu

Tidak mengukur uang dunia dan kesehatan badan, demi menggapai apa

yang kalayak ramai harapkan

Jumat, 19 April 2013 jam 16.30

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (انا لله وانا اليه راجعون)

Engkau menghadap sang Khaliq

Dengan raut wajah yang tersenyum seakan akan sudah terlepas semua beban dipundakmu

Semua orang tidak perlu direpotkan dengan segala urusan dalam pemakaman

Karena engkau  sudah berwasiat

Tidak boleh ada upacara militer, tidak mau dimakamkan di makam pahlawan biarpun sudah punya bintang tanda jasa pejuang 45

Semua peralatan kematian sudah disiapkan bertahun2 sebelumnya, baik kain kafan,  tlisik, patok makam (yg sebelumnya sdh dianti rayap) sudah diberi nama, kain pendoso bahkan papan nama untuk memberi pengumuman sudah dipersiapkan sedemikian rupa.

Ya Allah Ya Rabb

Keiklasan kami sebagai anak2nya yg ditinggalkan bisa menjadikan  amalan dan kebaikan kebaikan Ayahandaku bisa dengan mudah diterima di sisiMu, semoga

Ya Allah Ya Rabb

Jadikan jiwa jiwa kami seperti Ayahanda kami yang tidak kenal cuaca dan waktu dalam menyebut namaMu

Ya Allah Ya Rabb

Lindungi kami sekeluarga dari segala bentuk yg merusak kerukunan keluarga kami  dari bisikan2 syaitan yg terkutuk

Ya Allah Ya Rabb

Terimahlah segala permohonan kami ini,  Aamiin





Motor Pertama di Dunia

21 01 2010

Bentuk sepeda motor pertama di dunia. Sepeda motor pertama di duia adalah Hildebrand & Wolfmüller motorcycle.

Motor ini dibuat pada tahun 1895. Meski berusia ratusan tahun, ternyata motor pertama di dunia ini sudah mengusung teknologi yang sampai saat ini masih dipakai seperti Twin-Cylinder, 4 valve, water cooler dan bermesin 1.500 cc. Kakak beradik, Hendry dan Wilhelm mengembangkan motor ini bekerjasama dengan Alois Wolfmuller dan seorang mekanik bernama Hans Geisenhof.

Namanya juga jaman dulu alias jadul, walau bermesin besar, ternyata tenaga kuda yang dihasilkan hanya 2,5 hp saja pada 240 rpm. Motor pertama di dunia ini akan dilelang dan akan dipamerkan di ajang The International Classic MotorCycle Show, di Stafford, tanggal 25 April 2010 (copas INILAH.COM)





sejarah sepeda motor

5 01 2009

montor jadulz

Sepeda motor memiliki sejarah yang panjang di negeri ini. Sepeda motor sudah hadir di negara ini sejak masih berada di bawah pendudukan Belanda dan masih bernama Hindia Timur, Oost Indie atau East India.

Data yang ada menyebutkan bahwa sepeda motor hadir di Indonesia sejak tahun 1893 atau 115 tahun yang lalu. Uniknya, walaupun pada saat itu negara ini masih berada di bawah pendudukan Belanda, orang pertama yang memiliki sepeda motor di negeri ini bukanlah orang Belanda, melainkan orang Inggris. Dan, orang itu bernama John C Potter, yang sehari-hari bekerja sebagai Masinis Pertama di pabrik gula Oemboel (baca Umbul) Probolinggo, Jawa Timur.

Dalam buku Krèta Sètan (de duivelswagen) dikisahkan bagaimana John C Potter memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman.
Sepeda motor itu tiba pada tahun 1893, satu tahun sebelum mobil pertama tiba di negara ini. Itu membuat John C Potter menjadi orang pertama di negeri ini yang menggunakan kendaraan bermotor.
Sepeda motor buatan Hildebrand und Wolfmüller itu belum menggunakan rantai, belum menggunakan persneling, belum menggunakan magnet, belum menggunakan aki (accu), belum menggunakan koil, dan belum menggunakan kabel-kabel listrik.
Sepeda motor itu menyandang mesin dua silinder horizontal yang menggunakan bahan bakar bensin atau nafta. Diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk menghidupkan dan mestabilkan mesinnya.

Pada tahun 1932, sepeda motor ini ditemukan dalam keadaan rusak di garasi di kediaman John C Potter. Sepeda motor itu teronggok selama 40 tahun di pojokan garasi dalam keadaan tidak terawat dan berkarat.
Atas bantuan montir-montir marinir di Surabaya, sepeda motor milik John C Potter itu direstorasi (diperbaiki seperti semula) dan disimpan di kantor redaksi mingguan De Motor. Kemudian sepeda motor antik itu diboyong ke museum lalu lintas di Surabaya, yang kini tidak diketahui lagi di mana lokasinya.

Seiring dengan pertambahan jumlah mobil, jumlah sepeda motor pun terus bertambah. Lahirlah klub-klub touring sepeda motor, yang anggotanya adalah pengusaha perkebunan dan petinggi pabrik gula. Berbagai merek sepeda motor dijual di negeri ini, mulai dari Reading Standard, Excelsior, Harley Davidson, Indian, King Dick, Brough Superior, Henderson, sampai Norton. Merek-merek sepeda motor yang hadir di negeri ini dapat dilihat dari iklan-iklan sepeda motor yang dimuat di surat kabar pada kurun waktu dari tahun 1916 sampai 1926.

Lintas Jawa

Tidak mau kalah dengan pengendara mobil, pengendara sepeda motor pun berupaya membukukan rekor perjalanan lintas Jawa dari Batavia (Jakarta) sampai Soerabaja (Surabaya) yang berjarak sekitar 850 kilometer.

Kemudian, 16 Mei 1917, Frits Sl uijmers dan Wim Wygchel yang secara bergantian mengendarai sepeda motor Excelsior memperbaiki rekor yang dibukukan Gerrit de Raadt. Mereka mencatat waktu 20 jam dan 24 menit, dengan kecepatan rata-rata 42 kilometer per jam.

Rekor itu tidak bertahan lama. Sembilan hari sesudahnya, 24 Mei 1917, Goddy Younge dengan sepeda motor Harley Davidson membukukan rekor baru dengan catatan waktu 17 jam dan 37 menit, dengan kecepatan rata-rata 48 kilometer per jam.
Rekor itu sempat bertahan selama lima bulan sebelum dipecahkan oleh Barend ten Dam yang mengendarai sepeda motor Indian dalam waktu 15 jam dan 37 menit pada tanggal 18 September 1917, dengan kecepatan rata-rata 52 kilometer per jam.

Melihat rekornya dipecahkan oleh Barend ten Dam, enam hari sesudahnya, 24 September 1917, Goddy Younge yang berasal dari Semarang kembali mengukir rekor baru dengan catatan waktu 14 jam dan 11 menit, dan kecepatan sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya rata-rata 60 kilometer per jam.

Pada awal tahun 1960-an, mulai masuk pula skuter Vespa, yang disusul dengan skuter Lambretta pada akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, masuk pula sepeda motor asal Jepang, Suzuki, Honda, Yamaha, dan belakangan juga Kawasaki.
Seiring dengan perjalanan waktu, sepeda motor asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor di negeri ini. Urutan teratas ditempati oleh Honda, diikuti oleh Yamaha di tempat kedua dan Suzuki di tempat ketiga. (JL)

(Kompas, 16 Agustus 2008)