Selamat Jalan P. Bakri

11 08 2016

ucapan ek Alm Bakri

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un

Telah berpulang ke Rahmatullah, Bapak/Teman/Sahabat kita Bpk. Bakri (Zundapp)
pada hari Kamis Tanggal 11 Agustus 2016
Semoga amalan beliau selama di dunia diterima oleh Allah SWT

Selamat Jalan Pak Bakri, sudah banyak bantuan beliau terhadap perbaikan2 sepeda motor antikku, baik di cat, di olah sedemikian rupa sehingga sepeda antikku dapat berjalan ngaspal lagi…

Minggu kemarin kita masih bisa ngobrol2 biarpun didalam kamar, takdir memang harus memisahkan kita, akan selalu kukenang jasa2mu Pak, Terima kasih Pak Bakri, dan Sekali lagi selamat Jalan…





Mukayan in Jawapos

14 05 2011

Radar Malang

[ Senin, 12 Januari 2009 ]
Melihat Kegiatan Perkumpulan Motor Antik di Malang

Istri Ngidam Keliling Kota dengan Matchless 1956

Melengkapi sepeda motor dengan onderdil aslinya membutuhkan waktu dan dana tidak sedikit. Namun, kegiatan itu yang menjadi kenikmatan komunitas MACI (Motor Antik Club Indonesia) Malang. Saling bertukar informasi sampai browsing via internet merupakan salah satu topik pembicaraan saat para anggota berkumpul.

Happy D.Y

———————–

Deru sepeda motor memecah keheningan di sekitar perumahan Sulfat Indah II kemarin. Sayup-sayup, raungan bunyi dari knalpot itu makin mendekat hingga cukup memekikkan telingan. Suaranya khas, brum…brum…brum….

“Itu, teman-teman sudah datang,” ujar Wahjoedi, sebagai tuan rumah seraya berdiri menyambut kedatangan rekan-rekannya.

Sejurus kemudian, empat sepeda motor besar dengan pengendara berkostum hitam-hitam berhenti di halaman rumah Wahjoedi. Sebelum menghentikan sepeda motor, para pengendara ini unjuk kebolehan dengan berputar mengintari kawasan perumahan tersebut.

Urutan terdepan adalah Kayan H.D, yang belakangan diketahui mengendarai BSA (Birmingham Small Army) keluaran 1956. Dengan membonceng sang istri, Surtiningsih, 55, kepiawaian Kayan mengendarai sepeda motor tak kalah gayanya dengan anak muda.

Di belakangnya tampak Mumu, 25. Lajang yang buka usaha handphone ini ikut memperlihatkan sepeda motor kesayangannya, Norton tahun 1956. “Motor boleh tua, tapi pengendaranya tetap berjiwa muda,” celetuk Mumu begitu menyalami Radar yang sudah beberapa saat menunggu kedatangan mereka ini.

Selain itu ada Hamim yang membawa anak semata wayangnya, Haidar, bersama istrinya, Erika Puji Lestari, dengan sepeda motor Matchless keluaran 1956 serta Lukman dengan sepeda motor jenis BSA. Plat nomornya tertulis AE 6000 PW.

BSA, Norton, dan AJS (Adam Jhon Smith) yang dipunyai Wahjoedi merupakan jenis sepeda motor keluaran di bawah tahun 1960-an. Rata-rata memiliki CC 350, 500, dan 600. Sebagian besar merupakan keluaran Inggris. Di Malang ada ratusan orang yang memiliki sepeda motor tua ini.

Mereka inilah merupakan anggota MACI. MACI ini sendiri berdiri pada 1992. Biasanya mereka berkumpul satu bulan sekali dengan keliling kota dan bertukar informasi. Untuk komunitas di Indonesia sendiri, biasanya mereka bertemu saat jambore nasional yang digelar secara bergilir.

Pada 2004 lalu misalnya, anggota MACI berkumpul di Taman Budaya Jatim. “Yang hadir di sini sebagian saja. Karena memang hanya acara silaturahmi biasa. Jadi, siapa yang tidak ada acara, silakan datang,” ungkap Wahyoedi yang juga dosen FE UM ini.

Komunitas ini tetap menjaga keaslian onderdil sepeda motor. Onderdil yang terpasang diupayakan sesuai tahun keluaran dan harus asli. Sebut saja AJS kepunyaan Wahjoedi yang didapat 1999 lalu. Awal mulanya mendapatkan dalam keadaan tidak lengkap. Beberapa bagian onderdil terpasang bukan sesuai tahun keluarannya.

Pengakuan Wahyoedi, bernilai seni kalau sang pemilik berhasil mencari onderdil aslinya. Selain itu, mengembalikan aksesori aslinya merupakan kewajiban di tengah kecintaannya terhadap motor tua ini. “Lihat saja radiator ini. Dulunya radiator motor produk Jepang T-100. Tapi sekarang radiatornya asli. Saya dapat melalui browsing internet. Seingat saya harganya Rp 2,4 juta,” ujarnya. Bagian sock breaker juga demikian. Onderdil aslinya seharga Rp 1,5 juta diburu dari rekan-rekan sesama penggemar motor antik.

Istimewanya, motor-motor ini setelah dilengkapi onderdil aslinya akan bernilai jual tinggi. Harganya melambung tinggi dibandingkan saat mendapatkan dulu. Para pemilik motor antik ini sering mendapatkan penawaran dari penghobi lain dengan banderol tinggi. “Motor saya ini (BSA) pernah ditawar 45 juta. Tapi tidak saya berikan, karena tidak ada yang jual,” kata Kayan.

Dia menambahkan, koleksi motornya didapat dari pasar loakan sekitar 1980-an lalu dengan harga Rp 2,5 juta. Sudah puluhan juta dikeluarkan untuk perbaikan serta penambahan onderdil yang asli sesuai tahunnya.

Banyak pengalaman yang dijalani para penggemar motor ini. Dari berburu onderdil sampai mendapatkan jodoh. Pengalaman Hamim misalnya, bertemu Erika yang kini berstatus istriya dari MACI. Kebetulan Erika juga penggemar MACI yang didapat dari keluarganya.

“Hampir dipastikan saya selalu mendampingi suami saya kalau touring. Senang kalau naik motor antik ini. Nyaman, tidak seperti sepeda motor produk baru. Sulit diceritakan,” katanya lantas tertawa. Ketika hamil usia tiga bulan, Erika juga pernah ngidam dibonceng suaminya naik motor antik. Berbagai kota pernah disinggahi mendampingi suami. “Paling jauh touring ke Makassar beberapa waktu lalu,” ujar dia.

Hanya saja, di komunitas MACI ini sebagian besar motornya tidak dilengkapi surat-surat. “Komunitas kami sebenarnya ingin melengkapi surat-suratnya. Harapan kami pada pihak kepolisian mempermudah bagaimana bisa mendapatkan surat,” tambah Wahjoedi.

Imbas tak punya surat, keberanian menggendarai di jalan raya kalau sedang bersama-sama. Kalau sendiri-sendiri, terkadang khawatir karena tidak memiliki surat. “Untungnya motor antik ini tidak digunakan setiap hari. Hanya momen tertentu saja,” tandasnya Wahjoedi. (*)

url http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=57218





The Bronx… Mr. Wandi

22 01 2009

Pada hari minggu tgl 18 Januari 2009 kami berdua jalan2 kerumah salah satu personil Papamota yaitu Bp. Wandi.

Rumah Bp. wandi ini didaerah Purwodadi Pasuruan di pinggir jalan raya Purwodadi – Malang, kl dari Lawang (Malang) sekitar 3 Km arah Purwosari, sebelah timur jalan.

Pas ketemu P. Wandi langsung disapa dg ramah.. dg ciri kasnya yg banyol.. pokoknya kl ngobrol dg beliau gak akan ada habisnya.. mulai dari Mobil, sepeda motor.. sampai hal hal yg berbau mistik hehehe.


Tampak bp. wandi, yan’s dan sujen (di dinding naik suzuki bandit)

Beliau ini kalau di lingkungan papamota termasuk lama jg dan katanya banyak yg julukin dg The BRONX (kaya film2 the bronx saja) cos sepeda motornya kl gak ngebrong (suara yg menghentak2) beliau gak akan puas,  makanya beliau dapat julukan seperti itu.

Hari hari beliau sekarang ini ngurusi bengkel modif dengan peralatan yg sederhana.. tapi gak mau kalah dg kalangan muda (salut dech) yang penting jiwanya masih muda juga hahahaha dan hanya ditemani sang istri.. cos anak2nya sudah muar semua hehhee kaya burung saja.. bahkan muar nya ada yg keluar negeri.

Kesukaan beliau ya kadang berburu, mancing dan merawat si Elang Putih seperti yang ada di background dinding. oh iya dinding itu jg ada background suzuki bandit (posisi skrg ada dihalaman rumah beliau) tapi masih dalam tahap penyempurnaan.. ya kl udah jalan nanti akan kami tampilin lagi disini hehehehe…

setelah cukup panjang lebar gak terasa udah 2 jam kami ngobrol dg beliau, akhirnya kami undur diri.

Bravo Mr. Bronx..





Papamota di Jawapos just copas

21 01 2009

DICOPY PASTE Dari JAWAPOS Radar Kediri
[ Senin, 15 Desember 2008 ]
MACI, Komunitas Motor Antik di Kediri
Awalnya Dianggap Orang yang Kurang Kerjaan

Komunitas ini awalnya hanya beranggotakan segelintir orang saja. Itupun awalnya adalah para ‘blantik’ (pedagang) motor. Kini, anggotanya terus berkembang. Bagi komunitas ini, mengendarai motor yang harganya sama seperti harga mobil adalah kepuasan tersendiri.

HERI MUDA SETIAWAN, Kediri

—————————————————————

Soal komunitas penyuka otomotif, di Kediri tumbuh bak jamur di musim hujan. Jumlahnya tak terhitung. Tiap Sabtu malam, eksistensi komunitas-komunitas otomotif tersebut akan muncul. Mereka berjajar di base camp masing-masing.

Dari sekian komunitas motor tersebut, ada satu yang sering jadi perhatian. Komunitas itu bernama MACI. Yang merupakan kependekan dari Motor Antik Club Indonesia.

Sesuai namanya, komunitas ini adalah kumpulan dari penyuka motor antik alias kuno. Komunitas ini merupakah salah satu dari klub-klub yang usianya tua di Kota Tahu ini. “Kami sudah ada sejak era 80-an,” sebut Enggar, seorang anggota MACI.

Enggar tidak tahu tanggal dan tahun berapa tepatnya kelompok ini dibentuk. Hanya, MACI sebenarnya merupakan reinkarnasi dari Papamota. Papamota memiliki kepanjangan Paguyuban Penggemar Motor Tua.

Awal berdirinya Papamota, anggotanya hanya sepuluh orang. “Itupun boleh dibilang blantik-blantik (pedagang) motor,” ujar Enggar yang juga Ketua MACI Kediri ini.

Singkat cerita, di era 90-an, para pecinta motor antik itu dikumpulkan di Semarang oleh salah satu petinggi TNI. Mereka kemudian mendirikan wadah bagi pecinta motor antik. Sejak saat itu kelompok ini disebut MACI.

Di Kediri, komunitas ini terus berkembang. Ketika banyak komunitas lain yang terpecah karena perselisihan, MACI justru semakin solid. “Anggotanya itu tidak pernah berkurang malah tambah,” terang Enggar, yang menghitung anggotanya saat ini sebanyak 60-an orang.

Enggar sendiri masuk komunitas tersebut pada 1994. Ketertarikan Enggar dipicu kesukaannya pada motor kuno tersebut sejak kecil. Menurutnya, model motor yang asal-usulnya dari Negeri Ratu Elizabeth tersebut sangat menarik.

Enggar kecil pun punya angan-angan. Kelak jika dia besar ingin memiliki satu dari sekian banyak model motor antik. Sedikit, demi sedikit dia mengumpulkan rupiah agar bisa membeli motor yang diinginkannya. Motor antik yang pertama kali dia miliki bermerek BSA (Birmingham Small Arm).

Punya satu motor antik belum membuatnya puas. Di sela-sela kesibukannya menjadi Kepala Puskesmas Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, dia terus berburu motor antik. Hingga akhirnya mendapatkan merek Triumph yang diimpikan sejak muda.

Kegemarannya akan motor antik tersebut juga sempat membuat istrinya kepincut. Istri Enggar yang awalnya kurang suka pun kini mulai ikut-ikutan. “Sekarang istri saya itu malah suka tanya kapan touring lagi,” cerita Enggar.

Mereka yang tua pun juga tak ketinggalan. Salah satunya adalah Ashar, yang tinggal di Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Meski usianya sudah 67 tahun, pria yang punya 5 koleksi motor antik itu tak mau kalah dengan yang muda-muda. Tiap kali ada touring, Ashar tak mau ketinggalan. “Bisa hilangi stress,” ungkapnya.

Saking demennya dengan motor antik, Ashar pun terkadang rela duduk berjam-jam hanya karena memelototi motor antik koleksinya.

Maci tak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua saja. Mereka yang muda pun juga tak canggung bergabung. Seperti Anjik, pemuda asal Katang, Gampengrejo itu. Umumnya anak-anak muda yang lebih suka punya tunggangan mobil mewah, Anjik justru tampil beda. Baginya berkendara di atas mobil merupakan hal yang lumrah.

Awalnya dia pun sempat mendapat tentangan dari orang tuanya saat akan membeli motor antik. “Dipikir saya ini kurang kerjaan,” terangnya sambari tertawa.Namun dia pun bisa meyakinkan kedua orang tuanya. Memiliki motor antik tidak akan pernah merugi. Lantaran dari tahun ke tahun motor-motor antik harganya terus naik mengikuti kurs dolar.

Dengan motor antik tersebut, Anjik pun akhirnya bisa mengetahui Indonesia dan berbagai provinsi. Tentu hal itu didapatnya ketika mengikuti berbagai tour yang diadakan kelompoknya.

Anjik mengakui menunggangi motor tua bisa memberikan kepuasan tersendiri. Meski terkadang untuk menyalakannya harus mengeluarkan tenaga yang tidak kecil. “Kepuasannya itu lain dari pada yang lain,” ungkapnya.

Bahkan dengan memiliki motor antik dia menjadi mandiri. Setiap pemilik motor antik dituntut bisa mengenal karakter motor sendiri.

Ada satu kendala yang diakui hampir semua para pecinta motor antik tersebut. Yakni masalah surat kendaraan. Diakui, ada sebagian motor antik yang tidak jelas surat-suratnya. Itupun juga dikarenakan motor tersebut dulunya tidak banyak yang melirik. Bahkan, pemiliknya pun menempatkannya bercampur dengan barang rongsokan. Terlebih ada kabar saat itu mereka yang memiliki motor antik akan ditangkap, “Katanya itu motor para eks…,” jelasnya.

Mereka pun berharap instasi terkait bisa diajak duduk bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut. dengan harapan para pemilik motor antik tidak lagi was-was setiap berkendara di jalan. “Kalaupun harus bayar, kami pun siap,” ujarnya. (fud)

link : http://www1.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=49402